HaditsKe-16 Arbain An-Nawawi Jangan Marah. Hadits yang ke-15 Arbain An-Nawawi tentang adab seorang muslim. Syarah Hadits Arbain An-Nawawi Ke-19 Tentang Bantuan Allah. Pertanyaan; kenapa Allah berfirman, " Dan Dawud menduga bahia Kami mengujinya, maka dia memohon ampunan kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertobat.". ( Shad : 24-25 ). Liputan6com, Jakarta - Hadits merupakan salah satu sumber hukum Islam setelah Alquran. Barangkali, Sahih Bukhari-Muslim merupakan salah satu kitab hadits paling dikenal oleh kaum Muslimin.Namun, ada beberapa kitab hadits lainnya dan salah satunya adalah kitab Hadits Arbain. Kitab ini memuat kumpulan 40 hadits Nabi Muhammad SAW yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi.Di era digital seperti sekarang RiwayatImam Ahmad tersebut menjelaskan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa yang dimaksud dengan tidak beriman ialah tidak mencapai hakikat dan puncak iman, karena iman seringkali dianggap tidak ada karena ketiadaan rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya, seperti sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Pezina tidak CatatanHadits Arbain 1 : Niat dan Ikhlas. Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi'i berkata: Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah ArbainNawawiyah Hadits Ke 2 Tentang Pengertian Iman Islam Dan. Sabilus Salikin 3 Tarekat Dalam Alquran Dan Hadis Alif Id. Ar Risalah Syarah Hadits Nabi Saw Tentang Iman Ihsan Dan Kiamat 1. Hadits Arbain Ke 2 Rukun Islam Iman Dan Ihsan Youtubeviewer. Three Levels Of Faith Islam Iman And Ihsan. Hadits Jibril Tentang Islam Iman Dan Ihsan Warung ImamIbnu Daqiqil 'Ied berkata dalam Syarh Arbain An-Nawawi hal 9 : "Ini adalah hadits shohih yang disepakati akan keshohihannya dan akan "Sesungguhnya telah datang bahwa sebab keluarnya hadits ini adalah tentang seorang lelaki yang berhijrah hanya untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qois maka diapun dipanggil dengan . Hadits ke 2 Rukun Islam, Iman, dan Ihsan عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Umar radhiyallahu anhu pula dia berkata; pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya, kemudian ia duduk di hadapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan mendekatkan lututnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?’ Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab ”Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.” Laki-laki tersebut berkata Engkau benar.’ Maka kami pun terheran-heran padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya. Dia berkata lagi “Jelaskan kepadaku tentang iman?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Iman itu adalah Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.” Ia berkata Engkau benar.’ Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi Jelaskan kepadaku tentang ihsan?’ Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Ihsan adalah Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Diamelihatmu.” Dia berkata “Beritahu kepadaku kapan terjadinya kiamat?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.” Ia berkata “Jelaskan kepadaku tanda-tandanya!” Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak pakaian saling berlomba dalam meninggikan bangunan.” Umar radhiyallahu anhu berkata Kemudian laki-laki itu pergi, aku pun terdiam sejenak.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadaku “Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang tadi?” Aku pun menjawab “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Dia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama ini kepada kalian.” HR Muslim[1] [1] Diriwayatkan oleh Muslim 8. Beritahu yang lain Kajian Arbain An Nawawi Hadist ke-02 Islam, Iman dan Ihsan عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam seraya berkata “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah Tuhan yang disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata “ Beritahukan aku tentang hari kiamat kapan kejadiannya”. Beliau bersabda “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, kemudian berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau Rasulullah bertanya “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian bermaksud mengajarkan agama kalian“ [HR Muslim, no. 8] Faidah Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa. Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya. Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia. Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya. Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan. Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala. Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu. Hadits ini disebut Ummu As-Sunnah, induknya Islam sebagaimana kata Imam Al-Qurthubi. Islam dan iman itu berbeda. Ini masuk dalam kaedah idza ijtama’a iftaroqo, wa idza iftaroqo ijtama’a, jika disebut bersamaan maksudnya berbeda, jika disebut berbeda tempat, maka maksudnya sama. Yang dimaksud Islam adalah amalan lahiriyah, sedangkan Iman adalah amalan batin. Tingkatan paling tinggi seorang hamba berinteraksi dengan Allah disebut Ihsan. Ihsan ada dua tingkatan a tingkatan thalab berharap, yaitu engkau beribadah kepada Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya; b tingkatan harb takut, yaitu ingatlah Allah melihatmu. Tingkatan thalab lebih tinggi dari tingkatan harb. Yang rugi adalah jika tingkatan thalab dan harb tidak bisa dicapai. Malaikat bisa berada dalam bentuk manusia. Hendaklah berakhlak yang baik ketika berada di hadapan guru yang mengajarkan ilmu. Kiamat punya tanda-tanda dan yang mengetahui kapan datangnya kiamat hanyalah Allah. Di antara maksud seorang budak melahirkan majikannya adalah banyaknya bentuk kedurhakaan anak pada orang tuanya, sampai-sampai anak memperlakukan ibunya layaknya pembantu. Sekarang ini sudah bisa kita saksikan, dan banyak terjadi. Karenanya hati-hatilah kita jangan sampai kita menjadi bagian dari tanda-tanda kiamat. Materi Kajian Arbain An-Nawawi Pemateri Ustadz Al-Fiqhy, Lc. Tempat Masjid Besar Kaum Ujung Berung Bandung Waktu 09 November 2019 Raih pahala amal jariyah dengan cara membagikan share konten ini kepada yang lainnya. Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” HR. Muslim no. 1893 Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah الأربعون النووية atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 29 Muharram 1440 H / 09 Oktober 2018 M. Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi Status program kajian Hadits Arbain Nawawi AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 1630 - 1800 WIB. Download juga kajian sebelumnya Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan Kajian kali ini membahas hadits arbain ke 2. Yaitu hadits tentang Islam, iman dan ihsan yang juga diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu. Dalam hadits ini beliau mengatakan بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ Suatu ketika, kami para sahabat duduk di dekat Rasululah shallallahu alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kemudian ia berkata “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya. Kemudian ia bertanya lagi “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu berkata lagi “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju miskin papa serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.” Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, ”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8] Rukun Islam Pertama, bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Ada banyak Tuhan, tapi yang berhak disembah hanya Allah subhanahu wa ta’ala saja. Juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah hamba dan untusanNya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bukan Tuhan, bukan anak Tuhan. Maka tidak boleh diberikan hak-hak ketuhanan dan pada saat yang sama dia adalah Rasulullah. Dia manusia tapi bukan manusia biasa. Dia adalah manusia pilihan. Dimana orang-orang yang hidup setelah diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wajib untuk mengikuti beliau. Maka ajaran beliau universal, tidak hanya untuk orang arab. Tapi semua jin dan manusia yang hidup setelah diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wajib mengimani bahwa beliau adalah Rasulullah. Inilah keyakinan yang ideal yang diajarkan oleh Islam. Tidak merendahkan dan tidak juga menuhankan. Beliau adalah hamba, maka jangna dikultuskan, jangan dipertuhankan. Beliau juga Rasul, maka jangan dihinakan dan direndahkan. Dari rukun yang pertama ini bisa kita simpulkan tentang syarat diterimanya amal kita. Amal kita tidak diterima kecuali dengan ikhlas memberikan ibadah kita hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala saja, ini kembali kepada syahadat yang pertama. Kedua adalah bahwasannya kita harus menjalankan ibadah itu sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, ini kembali kepada syahadat yang kedua. Kedua, menegakkan shalat. Terutama shalat lima waktu yang wajib bagi setiap muslim. Seorang muslim tidak boleh meninggalkannya. Karena jika ditinggalkan akibatnya fatal. Sebagian ulama berpendapat bahwasannya meninggalkan shalat akan mengeluarkan pelakunya dari Islam. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Syaqiq radhiyallahu anhu, “Kami para sahabat tidak melihat ada suatu amalan yang jika ditinggalkan membuat pelakunya kafir kecuali shalat.” Maka berdasarkan hal ini dan juga dalil-dalil yang lain, sebagian dari ulama berpendapat bahwasannya meninggalkan shalat adalah kafir. Ketiga, menunaikan zakat. Bagi yang mampu, hendaknya tidak menunda-nunda dan tidak lari dari kewajiban membayar zakat. Karena itu adalah salah satu kewajiban dan bahwa rukun Islam. Meninggalkannya juga adalah sesuatu yang sangat fatal dalam agama kita. Keempat, menjalankan puasa ramadhan. Puasa ramadhan wajib bagi semuanya yang mampu untuk menjalankannya. Kelima, haji jika mampu datang ke Baitullah. Amalan Islam sangat banyak, tapi yang lima ini adalah yang paling penting. Lima amalan ini merupakan pondasinya yang kalau satu saja hilang, maka hal yang sangat fatal terjadi pada keislaman seseorang. Maka handaknya kita menjadikan kajian ini sebagai pengingat. Jika ada diantara kita yang belum menyelesaikan lima rukun ini hendaknya berusaha untuk menyelesaikannya. Terutama kewajiban-kewajiban yang wajib atas semua orang seperti syahadat, shalat dan puasa. Adapun syahadat dan haji, jika Allah subhanahu wa ta’ala menguji kita dengan kemudahan dalam urusan dunia sehingga kita menjadi orang yang wajib zakat atau wajib haji, maka hendaknya kita juga segera menjalankannya. Dalam potongan hadits yang awal ini, Beliau shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan Islam dengan amalan-amalan yang lahir. Hal ini karena Islam memang ditafsirkan dengan amalan-amalan lahir. Adapun amalan-amalan yang batin seperti aqidah, dirangkum dalam rukun iman. Rukun Iman Ketika ditanya tentang iman, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawabnya dengan perkara-perkara batin atau amalan-amalan hati. Yaitu Pertama, beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Yakni beriman bahwa Allah ada, Allah yang menciptakan kita, menciptakan dan mengatur seluruh jagad raya, memberikan kita rezeki, menghidupkan dan mematikan kita. Kemudian karena Allah yang menghidupkan dan mematikan kita, maka tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Dia. Dan kita juga wajib untuk menetapkan bahwa seluruh nama-nama yang sudah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an maupun dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ini semua bagian dari beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk memberikan ibadah dalam bentuk apapun kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak boleh bagi seorang mukmin menyembelih untuk selain Allah, atau meminta kesembuhan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, bersumpah dengan nama selain Allah subhanahu wa ta’ala, ini semua bentuk pengingkaran dan penentangan kepada keimanan yang sudah kita ikrarkan. Bahkan orang-orang Quraisy dahulu mengimani bahwa Tuhan mereka adalah Allah, yang menciptakan mereka adalah Allah, yang memberikan rezeki adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ketika mereka menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala, mereka tetap meyakini sesembahan mereka sebagai Tuhan dibawah Allah subhanahu wa ta’ala. Karenanya mereka disebut sebagai kaum Jahiliyah. Mereka tahu bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan yang tidak bisa memberikan manfaat atau memberikan bahaya, tapi mereka tetap menyembahnya. Maka kalau ada orang yang mengaku muslim namun masih menyembah selain Allah, menyembelih untuk selain Allah, bersumpah dengan nama selain Allah subhanahu wa ta’ala, maka apa bedanya mereka dengan orang-orang Musyrikin pada zaman Jahiliyah. Kedua, beriman kepada malaikat-malaikat Allah subhanahu wa ta’ala. Mengimani bahwasannya Allah memiliki malaikat-malaikat. Mereka adalah hamba-hambaNya yang tidak pernah berbuat maksiat. Mereka mentaati seluruh yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak pernah membangkang. Kemudian mengimani juga berbagai sifat dan keterangan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tentang mereka. Yakni mereka terbuat dari cahaya, bentuk fisik mereka memiliki sayap-sayap, diberikan kemampuan untuk merubah wujud kita. Kita mengimani keberadaan mereka secara global. Kemudian jika ada keterangan dari Allah subhanahu wa ta’ala atau dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tentang mereka, kita juga wajib untuk mengimani dan itu menjadi bagian dari iman kepada hal ghaib. Sebagaimana iman kita kepada Allah merupakan iman kepada yang ghaib. Dan beriman kepada hal-hal yang ghaib adalah sifat orang-orang yang bertakwa. Ketiga, beriman kepada kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab-kitab sebagai pedoman bagi hamba-hambaNya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman, disana ada kebahagiaan mereka. Kita mengimani hal tersebut secara global dan juga mengimani keterangan-keterangan tentang kitab-kitab yang dijelaskan secara lebih terperinci seperti Al-Qur’an, Taurat, Zabur, Injil, atau juga suhuf Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Bagaimana penjelasan selenjutnya? Simak Penjelasan Lengkapnya dan Download mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda. Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui Telegram Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui Facebook Pencarian penjelasan hadits arbain ke 2, syarah hadits arbain ke 2, hadits arbain ke 2 latin, hadits arbain ke 2 arab, ihsan hadits arbain ke 2, iman hadits arbain ke 2, islam arbain ke 2 latin, jelas arbain ke 2 arab, penjelasan hadits arbain ke 2, syarah hadits arbain ke 2, hadits arbain ke 2 latin Ada dua kalimat yang jadi nasihat berharga dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam yaitu berimanlah kepada Allah dan istiqamahlah. الحَدِيْثُ الحَادِي وَالعِشْرِيْنَ عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ Hadits Ke-21 Dari Abu Amr—ada yang menyebut pula Abu Amrah—Sufyan bin Abdillah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku berkata Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” HR. Muslim [HR. Muslim, no. 38] Penjelasan Hadits Kalimat “katakanlah suatu perkataan dalam Islam” yaitu dalam syariat Islam. Kalimat “suatu perkataan yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu”, maksudnya kalimat tersebut sangat berbeda, kalimat tersebut sudah jadi definisi, sifat kalimat tersebut jaami’ dan maani’. Jaami’ dan maani’ artinya memasukkan semua yang tercakup di dalamnya dan mengeluarkan yang tidak tercakup di dalamnya. Beriman kepada Allah itu terkait dengan amalan hati, sedangkan “kemudian istiqamahlah” berarti istiqamah dalam ketaatan termasuk amalan jawarih anggota badan. Faedah Hadits Para sahabat sangat semangat dalam mencari ilmu. Hal ini dibuktikan dengan semangatnya mereka dalam bertanya. Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi menanyakan perkara yang penting karena sudah cukup tanpa perlu ditanyakan kepada selain Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi mungkin saja bertanya kepada sahabat lainnya dalam masalah ilmu, dan ada di antara mereka yang bisa berfatwa. Namun karena begitu pentingnya masalah ini, hanyalah Rasul shallallahu alaihi wa sallam yang diharapkan menjawabnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam dikaruniakan jawaami’ul kalim, yaitu kalimat yang ringkas namun sarat makna. Dan ini tercakup dalam dua kalimat dalam hadits ini yaitu “aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah”. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita.” QS. Al-Ahqaf 13 إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu“.” QS. Fushshilat 30 فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۚإِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” QS. Hud 112 Istilah istiqamah lebih tepat dibanding dengan iltizam. Sehingga orang yang istiqamah disebut mustaqim, bukan multazim. Siapa saja yang kurang dalam melakukan yang wajib, berarti ia tidak istiqamah, dalam dirinya terdapat penyimpangan. Ia semakin dikatakan menyimpang sekadar dengan hal wajib yang ditinggalkan dan keharaman yang dikerjakan. Sekarang tinggal kita koreksi diri, apakah kita benar-benar istiqamah ataukah tidak. Jika benar-benar istiqamah, maka bersyukurlah kepada Allah. Jika tidak istiqamah, maka wajib baginya kembali kepada jalan Allah. Istiqamah itu mencakup segala macam amal. Siapa yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya, maka ia tidak istiqamah. Siapa yang enggan bayar zakat, maka ia tidak istiqamah. Siapa yang menjatuhkan kehormatan orang lain, ia juga tidak istiqamah. Siapa yang menipu dan mengelabui dalam jual beli, juga dalam sewa-menyewa, maka ia tidak disebut istiqamah. Bagaimana cara istiqamah? Ada tiga kiat utama yang bisa diamalkan. Pertama Mencari teman bergaul yang saleh. Dari Abu Musa radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk berteman dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” HR. Bukhari, no. 2101 Kedua Rajin hadiri majelis ilmu. Dari Hanzhalah Al-Usayyidiy–beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam–, ia berkata, “Abu Bakr pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?” Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu.” Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu bersabda, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidurmu dan di jalan. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. HR. Muslim no. 2750. Ketiga Memperbanyak doa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia.” QS. Ali Imran 8 Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ “ALLOHUMMA MUSHORRIFAL QULUUB SHORRIF QULUUBANAA ALA THOO’ATIK artinya Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” HR. Muslim, no. 2654 Dalam riwayat selengkapnya disebutkan, إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ “Sesungguhnya hati manusia seluruhnya di antara jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati, Allah membolak-balikkannya sekehendak-Nya.” HR. Muslim, no. 2654 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin mengajarkan faedah yang bagus tentang doa ini di mana kalimat ALA THOO’ATIK mempunyai makna sangat dalam. Artinya, kita minta kepada Allah supaya hati kita terus berada pada ketaatan dan tidak beralih kepada maksiat. Hati jika diminta supaya balik pada ketaatan, berarti yang diminta adalah beralih dari satu ketaatan pada ketaatan lainnya, yaitu dari shalat, lalu beralih pada dzikir, lalu beralih pada sedekah, lalu beralih pada puasa, lalu beralih pada menggali ilmu, lalu beralih pada ketaatan lainnya. Maka sudah sepantasnya doa ini diamalkan. Wallahul muwaffiq. Semoga Allah memberi taufik. Referensi Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Syarh Riyadh Ash–Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penerbit Dar Kutub Al-Alamiyyah. — Disusun darushsholihin, 22 Rajab 1440 H, Jumat sore 29 Maret 2019 Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Kali ini akan dishare kumpulan hadits tentang iman lengkap dalam tulisan bahasa arab dan artinya. Hendaknya kita sebagai seorang muslim memahami apa hakikat keimanan yang benar dalam agama islam. Semua perkara iman, islam dan ihsan ini bisa kita temui di berbagai dalil baik ayat suci Al Quran dan hadits Rasulullah SAW. Pengertian iman sendiri Secara bahasa berarti pembenaran hati, kemantaban hati atau percaya,. Sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan perbuatan. Dengan demikian, pengertian iman kepada ALLAH SWT adalah membenarkan dengan hati bahwa ALLAH SWT itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Adapun secara syari’at, iman berarti mengetahui ALLAH SWT dan sifat-sifatnya disertai dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Dengan begitu, seorang muslim bisa dikatakan memiliki iman yang sempurna jika ia memenuhi semua unsur tersebut. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Pembahasan iman ini sangatlah luas, kita bisa melihat berbagai dalilnya dalam kitab suci Al Quran dan hadist hadist tentang iman. Dalam sebuah ayat Al Quran, ALLAH SWT berfirman sebagai berikut إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ Artinya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” QS al-Hujurât 15. Iman sendiri berbgai macam, jika kita merujuk kepada rukun iman dalam islam. Maka ada Iman kepada ALLAH SWT, Iman kepada malaikat, Iman kepada kitab ALLAH SWT, Iman kepada Rasul, Iman kepada hari akhir serta Iman kepada qada dan qadar takdir baik dan buruk dari ALLAH SWT. Keimanan ini sangatlah penting karena merupakan bekal kita kelak di akhirat. Seorang muslim yang beriman dan bertakwa kepada ALLAH SWT, maka insyaallah kita akan masuk dalam syurga dan ALLAH SWT ridho kepada kita. Namun menjadi hamba yang beriman tidaklah mudah, terkadang iman naik dan turun tidak menentu. Untuk itu perlu kiranya kita mempelajari sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadits hadist tentang iman agar kita selalu daam ketaatan dan amal shaleh. Dan untuk lebih jelasnya simak berikut ini daftar kumpulan hadits tentang iman islam dan ihsan lengkap dalam lafadz arab dan terjemahan bahasa Indonesianya. Hadits Tentang Iman, Islam dan Ihsan Lengkap حَدِيْثُ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النبي ص م بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ مَاالْاِيْمَانُ؟ قَالَ الْاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنُ بِالله وَمَلَائِكَتِهِ وَبِلقَائِهِ وَبِرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالبَعْثِ،قَالَمَاالْاِسْلاَمُ؟ قَالَ الْاِسْلاَمُ اَنْ تَعْبُدَاللهَ وَلَاتُشْرِكْ بِهِ وَتُقِيْمَ الصَّـلَاةَ وَتُؤَدِّىَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ. قَالَ مَاالْاِحْسَانُ؟ قَالَ اَنْ تَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَأِنهُ يَرَاكَ. قَالَ مَتَى السَّـاعَةُ؟ قَالَ مَااْلمسْـئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّـائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ اَشْرَاطِهَا، اِذَا وَلَدَتِ الاَمَةُ رَبَّهَا، وَاِذَاَ تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْاِبِلِ الْبَهْمُ فِى الْبُنْيَانِ، فِى خَمْسٍ لَايَعْلَمُهُنَّ اِلّااللهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِىُّ ص م اِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السّـاعَةِ،الآية. ثُمَّ اَدْبَرَ. فَقَلَ رُدُّوْهُ، فَلَمْ يَرَوْا هَذاَ جِبْرِيْلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِيْنَهُمْ. Artinya Hadits Abu Hurairah ra. Dimana ia berkata “pada suatu hari Nabi SAW. Berada di tengah-tengah para sahabat, lalu ada seseorang datang kepada beliau lantas bertanya “Apakah iman itu?”. Beliau menjawab “Iman adalah kamu percaya kepada Allah dan malaikatNya, percaya dengan adanya pertemuan denganNya, dan dengan adanya rasul-rasulNya, dan kamu percaya dengan adanya hari kebangkitan setelah mati”. Ia bertanya “Apakah Islam itu?”. Beliau menjawab “Islam yaitu kamu yang menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan ramadhlan”. Ia bertanya “Apakah Ihsan itu?”. Beliau menjawab “kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya, dan jika kamu tidak bisa seakan-akan melihatNya maka beryakinlah bahwa sesungguhnya Allah melihat kamu”. Ia bertanya “Kapan hari kiamat itu?”. Beliau menjawab “Orang yang ditanya tentang hari kiamat itu tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya. Akan tetapi aku akan memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya yaituapabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya, apabila pengembala unta dan ternak berlomba-lomba dalam bangunan; dalam lima hal tidak mengetahuinya kecuali Allah”. Kemudian Nabi SAW. Membaca ayat yang artinya “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha mengenal”. Orang yang bertanya itu lantas pergi , lalu beliau bersabda “itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka”. HR Bukhari; Muslim . حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.رواه البخاري Artinya Abdullah ibn Musa telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Hanzhalah ibn Abi Sufyan telah memberitakan kepada kami, dari Ikrimah ibn Khalid, dari ibn Umar berkata Rasulullah saw. telah bersabda “Islam didirikan atas lima perkara, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah swt, dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, dan berpuasa dibulan Ramadhan”. Al-Bukhari حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإِيْمَانِ Ibnu Umar berkata bahwa Nabi SAW melewati melihat seorang lelaki kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena malu, maka Nabi SAW telah bersabda Biarkanlah ia karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman. أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. [رواه البخاري ومسلم] Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya" Riwayat Bukhari dan Muslim حَدِيْثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعِظُ اَخَاهُ فِيْ الحَيَاءِ فَقَالَ الحَيَاءُ مِنَ الْلأِيْمَانِ Diriwayatkan dari Abu Umar Ra katanya Nabi Saw mendengar seorang menasehati saudaranya dalam hal malu dan menganggap perbuatan itu buruk, lalu Nabi Saw bersabda. malu itu sebagian dari iman” الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً أَفْضَلُهَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَوْضَعُهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَان “Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, iman yang paling utama adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari keimanan.”HR Bukhori, HR Muslim. الايمان معرفة بالقلب و قول باللسا ن و عمل بالاركان رواه الطبران Artinya “Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”HR Thabrani عَنْ اَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَ جَدَ حَلَاوَةَ الإِيْمَانِ أنْ يَكُوْنَ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَاَنْ يُحِبَّ الْمَرْءُ لَا يُحِبُّحُ اِلَّا لِلهِ وَ اَنْ يَكْرَهَ اَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ اَنْ يُقْذَفَ فِى الْنَّا رِ. رواه البخاري Artinya Dari Anas dari Nabi SAW, beliau bersabda tiga hal bila terdapat pada diri seseorang, maka ia mendapatkan manisnya iman, yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada yang lain, apabila ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan apabila ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka. HR. Bukhari Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesuatu yang dia cintai untuk dirinya”. HR. Bukhari dan Muslim. لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ شَارِبُهَا حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ “Tidaklah seseorang berzina dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang meminum minuman keras ketika meminumnya dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang melakukan pencuria dalam keadaan beriman dan tidaklah seseorang merampas sebuah barang rampasan di mana orang-orang melihatnya, ketika melakukannya dalam keadaan beriman.” HR. Bukhari dan Muslim. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ “Tidak keimanan bagi mereka yang tidak memiliki amanah.” عَنْ أَبِيْ مَالِكْ الْحَارِثِي ابْنِ عَاصِمْ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ، وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانِ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ - أَوْ تَمْلآنِ - مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا [رواه مسلم] Dari Abu Malik, Al Harits bin Al Asy'ari' Suci itu sebagian dari iman, bacaan alhamdulillaah memenuhi timbangan, bacaan subhaanallaah dan alhamdulillaah keduanya memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu adalah nur, shadaqah adalah pembela, sabar adalah cahaya, dan Al-Qur'an menjadi pembela kamu atau musuh kamu. Setiap manusia bekerja, lalu dia menjual dirinya, kemudian pekerjaan itu dapat menyelamatkannya atau mencelakakannya".HR. Muslim عَنِ ابْنِ حَجَرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ أْلإِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِاْلقَلْبِ وَقَوْلٌ بِالِّلسَانِ وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ رواه ابن ماجه والطبراني Artinya “Dari Ibnu Hajar Radhiyallahu Anhu beliau berkata Rasulullah SAW telah bersabda Iman adalah Pengetahuan hati, pengucapan lisan dan pengamalan dengan anggota badan” Ibnu Majah dan At-Tabrani. حَدِيْثُ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ اُمِرْتُ اَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لَآ اِلَهَ اِلَّا اللهُ فَمَنْ قَالَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ عَصَمَ مِنِّيْ مَا لَهُ وَنَفْسَهُ اَلَّا بِحَقّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra. Katanya “Aku diarahkan supaya memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan dua kalimah syahadat. Siapa yang mengucapkannya berarti dia dan hartanya bebas dari aku kecuali dibenarkan oleh syariat dan segala-galanya terserahlah kepada Allah Swt untuk menentukannya. عَنْ أَبِيْ سَعِيْدِ اْلخُدْرِيِّ رَضِيَ الله ُعَنْهُ ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله ِصَلي الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ رَّأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لمَّ ْيَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لمَّ ْيَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ . رواه مسلم [ رقم 49 ] Artinya “Dari Abu Sa’d Al-Khudriy Radhiyallahu Anhu, beliau berkata Saya pernah mendengar Rasulallah SAW berkata barang siapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran maka hendaknya dia merubah dengan kekuasannya, apabila dia merasa tidak mampu maka dengan lisannya, maka apabila dia tidak mampu hendaknya dia membenci kemunkaran tersebut dengan hatinya, yang demikian itu adalah tingkatan iman yang paling lemah ” Muslim. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ رواه البخاري و مسلم Artinya “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda barang siapa yang beriman kepada Allah hari akhir maka hendaknya dia mengormati tidak menyakiti tetangganya orang yang berada di sekelilingnya” . Bukhari dan Muslim. وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْأِيْمَانِ Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra katanay Rasulullah Saw bersabda “Iman terdiri lebih dari tujuh puluh bagian, dan malu dalah salah satu dari bagian-bagian Iman.” حَدِيْثُ اَنَسِ بن مالك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ لِأَحِيْهِ اَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يَحِبُّ لِنَفْسِهِ Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra katnya Nabi Saw telah bersabda “tidak sempurna iman seseorang itu, sebelum ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.” Demikianlah artikel mengenai kumpulan hadits tentang iman lengkap bahasa arab dan artinya. Insyaallah semua daftar hadist Nabi Muhammad SAW diatas bermanfaat dan bisa menjadi referensi pengetahuan dalam memehami apa arti keimanan, islam dan ihsan yang benar. Wallahu a'lam. Alhamdulillah, kita memuji, memohon pertolongan, dan memita ampun hanya kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya hingga hari kiamat. Pada artikel ini, kita akan mengkaji bersama hadits kedua dari kitab arba'in nawawi, yaitu hadits tentang islam iman dan ihsan. Lalu kita akan mengetahui apa maksud dari hadits tersebut, serta faedah apa saja yang dapat kita ambil. A. Hadits Tentang Islam, Iman dan Ihsan عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَيضاً قَال بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَاب شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله، وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً قَالَ صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِالله، وَمَلائِكَتِه، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِر، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِها، قَالَ أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرى الْحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثَ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ اللهُ وَرَسُوله أَعْلَمُ، قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ B. Terjemahan Hadits Dari Umar radhiyallaahu anhu juga ia berkata Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam. Padanya tidak tampak bekas perjalanan jauh dan tidak ada diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menyandarkan kedua lututnya pada lututnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, seraya berkata “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam!” Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda “Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikkan zakat, puasa Ramadhan, dan haji jika mampu.” Kemudian dia berkata “Engkau benar!” Kamipun terheran, dia sendiri yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi “Beritahukan aku tentang Iman!” Lalu beliau bersabda “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk” Kemudia dia berkata “Engkau benar!” Kemudian dia berkata lagi “Beritahukan aku tentang ihsan!” Lalu beliau bersabda “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.” Kemudian dia berkata “Beritahukan aku tentang hari kiamat kapan kejadiannya.” Beliau bersabda “Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya.” Dia berkata ”Beritahukan aku tentang tanda-tandanya!“ Beliau bersabda “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, kemudian berlomba-lomba meninggikan bangunannya.“ Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau bertanya “Tahukah engkau siapa yang bertanya?”. Aku berkata “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui“. Beliau bersabda “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.“ C. Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan 1. Sekilas Tentang Isi Hadits Ini Hadits ini adalah hadits yang sangat agung. Hadits ini menjelaskan tentang agama secara menyeluruh, mulai dari rukun Islam, rukun Iman, Ihsan, dan juga dijelaskan tentang tanda-tanda hari kiamat. Karena itulah, setelah Nabi shallallaahu alaihi wasallam menjelaskan tentang Islam, Iman dan Ihsan, diakhir kata beliau bersabda فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.“ Hadits ini merupakan kumpulan ilmu dan pengetahuan yang semuanya akan kembali kepada hadits ini dan tercakup di bawahnya. Apabila para ulama membahas ilmu maka mereka tidak keluar dari cakupan hadits ini. Dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa dalam beragama seseorang memiliki beberapa tingkatan, yakni ada yang berada di tingkat muslim, kemudian mukmin, dan yang tertinggi adalah muhsin. 2. Apa Itu Islam? Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa hakikat Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke baitullah bagi yang mampu. Kelima perkara ini merupakan rukun yang wajib ditunaikkan dengan keyakinan di dalam hati. Kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan dalam Islam lainnya. Karena mengerjakan kewajiban dan meninggalkan larangan lainnya merupakan penyempurna dari kelima rukun tersebut. Rukun-rukun tersebut merupakan pondasi berdirinya Islam, kemudian barulah datang amalan-amalan lainnya baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Apabila kita meninggalkan rukun ini maka amalan lainnya baik yang bersifat wajib maupun sunnah tidak akan bermanfaat. Kelima rukun tersebut bukanlah Islam secara menyeluruh, karena ia hanyalah rukun dan tiang-tiangnya Islam. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ Islam dibangun di atas lima perkara yaitu syahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikkan zakat, haji, dan puasa Ramadhan. HR. Bukhari 8 Islam itu luas, ia mencakup semua yang diperintahkan oleh Allah dan yang menjadi larangan-Nya. Maka dari itu, apabila kita tinggalkan salah satu dari rukun tersebut maka Islam kita tidaklah sah. Namun, apabila kita tinggalkan selain dari rukun-rukun tersebut maka Islam kita tetap sah, hanya saja tidak sempurna tergantung banyaknya perkara dalam Islam yang ditinggalkan. Secara menyeluruh Islam dapat diartikan “Berserah diri kepada Allah azza wa jalla dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan serta pelakunya.” 3. Rukun Pertama Dua Kalimat Syahadat Apa itu Syahadat? Syahadat berarti menyatakan apa yang ada di dalam hati dengan lisannya, karena syahadat adalah ucapan dan pemberitahuan tentang apa yang ada di dalam hati. Syahadat tidaklah cukup dengan lisan, karena orang munafikpun bersyahadat dengan lisannya tetapi tidak dengan hatinya. Dua kalimat syahadat ini adalah satu rukun yang tidak bisa dipisahkan. Karena apabila kita hanya bersyahadat أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ الله namun mengingkari أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ اللهِ maka syahadatnya tidak sah. Syahadat أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ الله berarti mengharuskan keikhlasan, sedangkan syahadat أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ اللهِ berarti mengharuskan ittiba’. Dan semua amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak akan diterima kecuali dengan ikhlas dan ittiba’. Makna Dua Kalimat Syahadat Makna syahadat yang pertama “أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله” adalah “Aku mengakui dan meyakini bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah.” Maksud dari “لَا إِلَهَ” tidak ada tuhan bukan berarti menafikan keberadaan tuhan atau sesembahan, akan tetapi maksudnya adalah menafikan hak sesembahan. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa sesembahan itu sangatlah banyak, seperti pohon, batu, berhala, matahari, kuburan dan sesembahan-sesembahan batil lainnya. Namun, yang berhak untuk disembah hanya satu yaitu Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ Kuasa Allah yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Tuhan Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS. Al-Hajj 62 Makna syahadat yang kedua “أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ اللهِ” adalah “Aku mengakui dan menyatakan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah yang diutus untuk seluruh manusia, dan dua golongan yakni jin dan manusia.” Pengakuan dan pernyataan kerasulan Muhammad ini harus dengan hati dan dengan lisannya. Karena siapa yang mengakui dengan lisannya saja maka ia adalah munafik. Demikian apabila mengakui dengan hatinya juga tidaklah cukup karena orang Yahudi dan Nasranipun mengakui dengan hatinya bahwa Muhammad adalah Rasulullah, akan tetapi mereka malah kufur terhadapnya dan tidak mau mengakui dengan lisannya. Allah ta’ala berfirman الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah Kami beri Al Kitab Taurat dan Injil mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. QS. Al-Baqarah 146 Maka bagi seorang yang bersyahadat dan mampu mengucapkannya dengan lisannya ia juga harus mengikrarkannya dengan lisan. Konsekwensi Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat Konsekwensi dari syahadat yang pertama adalah mengikhlaskan atau memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Inilah yang disebut dengan tauhid uluhiyyah atau tauhid ibadah. Karena makna dari syahadat yang pertama ini adalah “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.” Oleh karena itu, barang siapa yang bersyahadat dengan syahadat yang pertama ini maka ia harus memurnikan ibadah untuk Allah dan menjauhi riya’ serta kesyirikan lainnya. Barang siapa yang bersyahadat dengan syahadat ini lalu ia menyembah kepada selain Allah maka ia adalah pendusta. Konsekwensi dari syahadat yang kedua adalah Pertama, membenarkan apapun yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam tanpa keraguan sedikitpun. Kedua, mengikuti perintah-perintahnya serta menjauhi larangannya dengan segenap kemampuannya tanpa pilah-pilih mana yang cocok untuk dirinya. Ketiga, mendahulukan perkataan Nabi shallallaahu alaihi wasallam dari pada perkataan manusia selainnya. Tidaklah pantas apabila telah sampai hadits Nabi kepada kita kemudian kita mengatakan “Kata Syaikh atau Imam fulan begini dan begitu” Keempat, tidak mengada-ngadakan syariat baru yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Karena diantara makna syahadat yang kedua ini adalah meninggalkan bid’ah atau perkara baru dalam agama. Kelima, mengamalkan syariat Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wasallam disertai dengan tashdiq membenarkan. Karena mengamal tanpa disertai dengan tashdiq adalah peringainya orang-orang munafik. Mereka ikut shalat, puasa, haji, bahkan jihad, akan tetapi mereka tidak membenarkan apa yang datang dari Rasulullah. Keenam, tidak meyakini adanya sifat rububiyyah di dalam diri Nabi shallallaahu alaihi wasallam. Karena ia hanyalah manusia biasa dan hamba Allah yang diutus oleh Allah. 4. Rukun Kedua Mendirikan Shalat Mengapa rukun yang kedua adalah “Mendirikan Shalat”? Mengapa tidak disebut “Shalat” saja? Karena yang dikehendaki bukan hanya melaksanakan shalat saja akan tetapi benar-benar mendirikan shalat. Dan tidaklah dikatakan mendirikan shalat hingga ia mengerjakan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan juga hal-hal yang diwajibkan di dalam shalat itu sendiri. Mendirikan shalat berarti Pertama, melaksanakan shalat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Tidaklah dapat dikatakan mendirikan shalat apabila kita melaksanakan shalat sembarangan. Karena hal itu menyalahi sabda Nabi وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat HR. Bukhari 631 Kedua, melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Allah ta’ala berfirman إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. QS. An-Nisa’ 103 Ketiga, benar-benar tunduk dan khusyuk serta menghadirkan hatinya dalam melaksanakan shalat. Karena shalat tidak hanya sekedar gerakan dan ucapan tanpa arti. Namun, shalat adalah ibadah yang juga melibatkan kekhusyukan hati. Karena khusyuk adalah ruhnya shalat. Allah ta’ala berfirman قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya QS. Al-Mu’minun 1-2 Keempat, melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah. Melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah hukumnya wajib. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ Barang siapa yang mendengar adzan, lalu ia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur HR. Ibnu Majah 793 5. Rukun Ketiga Membayar Zakat Zakat merupakan hak yang diwajibkan oleh Allah ta’ala agar ditunaikkan oleh orang kaya kepada orang miskin. Allah ta’ala berfirman وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. QS. Adz-Dzariyat 19 Apabila zakat dibayarkan dengan senang hati maka Allah akan menerimanya. Namun, apabila mengingkari wajibnya zakat maka hukumnya kafir. Apabila seseorang sudah tau bahwa zakat itu wajib namun ia tidak mau membayarnya maka pemerintah wajib mengambilnya secara paksa, atau menegurnya, atau memberinya pelajaran. Apabila ada pasukan yang menghalangi pemerintah untuk mengambil zakatnya maka pemerintah wajib memeranginya hingga ia mau membayar zakatnya. 6. Rukun Keempat Puasa Bulan Ramadhan Puasa selama sebulan penuh wajib di tunaikkan oleh seorang muslim di setiap bulan Ramadhan. Allah ta’ala berfirman شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di negeri tempat tinggalnya di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu QS. Al-Baqarah 185 Namun, apabila ia berhalangan maka hendaknya ia ganti puasa itu di hari yang lain. Allah ta’ala berfirman وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain QS. Al-Baqarah 185 7. Rukun Kelima Haji Bagi yang Mampu Haji secara bahasa artinya menyengaja. Adapun secara syar’i yaitu sengaja mengunjungi baitul haram untuk menunaikkan manasik haji dan umrah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Haji dan umrah adalah ibadah yang pelaksanaannya dilaksanakan di masjidil haram dan tempat-tempat sekitarnya yang telah di tentukan. Adapun waktunya, khusus haji hanya dilaksanakan di bulan tertentu, sementara umrah bisa dilaksanakan kapanpun di sepanjang tahun. Allah ta’ala berfirman الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi QS. Al-Baqarah 197 Haji wajib ditunaikkan bagi yang mampu baik dari kemampuan harta, badan, maupun perjalanan. Allah ta’ala berfirman وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah QS. Ali Imran 97 Haji hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Di dalam hadits disebutkan, bahwa Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam berkhutbah أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ، فَحُجُّوا Wahai manusia, Allah telah mewajibkan haji pada kalian! Maka berhajilah! فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللهِ؟ Lalu ada seorang lelaki bertanya “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ Maka Rasulullah diam hingga lelaki itu bertanya tiga kali. Lalu Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda Seandainya aku mengatakan “Ya” maka akan menjadi wajib dan kalian tidak akan mampu. HR. Muslim 1337 Demikianlah pembahasan hadits tentang Islam Iman dan Ihsan dicukupkan hingga pembahasan Islam terlebih dahulu. Untuk pembahasan Iman dan Ihsan insya Allah akan kita pelajari pada artikel selanjutnya. Barakallaahufiikum. SEKILAS TENTANG KITAB HADITS ARBA'IN NAWAWI Hadits Arbain An-Nawawi Kitab hadits Arbain an-Nawawi merupakan kitab yang menghimpun hadits-hadits penting yang termasuk Jawami al-Kalim singkat tapi padat makna. Kitab ini berukuran kecil dan tidak asing di tengah kaum Muslimin, bahkan banyak dihafal oleh para penuntut ilmu di berbagai penjuru dunia. Hal tersebut karena walaupun kitab ini kecil, namun sarat dengan nilai-nilai dasar Syariat Islam yang sangat penting, yang hanya memuat 42, hadits namun merupakan intisari ajaran Islam. Oleh karena itu, kami menyajikan buku ini untuk Anda, dalam format memuat matan hadits Arbain an-Nawawi dan terjemahnya, berikut intisari kandungan hadits berdasarkan syarah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, yang disajikan dengan bahasa yang lugas dan jelas, simpel dan praktis, yang menjadikan buku ini cocok untuk dibaca oleh semua kalangan, baik tua maupun muda, kalangan terpelajar maupun masyarakat awam. Buku ini adalah rujukan primer bagi kaum Muslimin, bahkan patut dimasyarakatkan agar Anda berminat memiliki kitab ini, dapatkan dengan mengklik gambar di bawah ini Refrensi Al-Arbaun An-Nawawiyyah Imam An-Nawawi Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab Syarah Al-Arbain An-Nawawiyyah Al-Utsaimin Al-Minhatur Rabbaniyyah fii Syarh Al-Arbain An-Nawawiyyah Shalih Al-Fauzan Klik untuk Membaca Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan Bagian 2

hadits arbain tentang iman